Pemberhentian Akhir Ara

Huy.. Huy.. Huy..

Kembali lagi bersama saya dalam acara CERJEBO.. Cerita Gajebo.. *tsaaahh.. hehehe.. hari ini gw mau mengepost cerpen serius yang gw bikin kelas XI SMA (lebih mirip kayak cerpen anak SD.. hehe).. tapi tetap mau pamer ahh.. hahaha.. Bila anda suka ceritakanlah pada teman anda, bila anda tidak suka, paksain biar suka.. selamat menikmati..

PEMBERHENTIAN AKHIR ARA

”Tambah lagi Bass-nya, Ra!! Kamu kurang betot bass-nya!!” suara teriakan bariton Jason terdengar lagi. Serta merta aku menutup kuping dengan kedua tangan dan lagu yang dimainkan berhenti sudah. Maklum, orangnya tepat dibelakangku,sih.

“Iya,, iya,, jadi drummer bawel amat sih!!”

“Kamu, sih, Fred, ngapain juga ngajak si Ara buat jadi bassist band kita?!” Jason kembali mengulangi statement yang selalu diulanginya setiap ada kesempatan itu.

“Loh, kok jadi gitu, sih?!” Aldi, sang-dewa-gitar, bertanya sebuah pertanyaan retoris untuk Jason.

Well, yah, begitulah keadaanku setiap kali latihan. Sementara itu, Fredi hanya asyik memandangi dengan tersenyum manis, jengah juga lama-lama. Aku memang seorang bassist di Band Gelow ini. Lagu-lagunya memang lumayan keras untuk taraf perempuan seperti aku. Tapi, aku telah terbiasa oleh keadaan ini. Lagipula, siapa tahu nanti aku jadi terkenal karena band ini?! Aku mengikut band ini memang sebuah kebetulan. Sebelumnya aku hanyalah sahabat dari Fredi, sang-vokalis-bersuara-dewa-bertampang-malaikat, dan Anton, bassist lama Band Gelow. Tapi, sejak kecelakaan yang merebut nyawa Anton, nge-track di jalanan, aku resmi menjadi pengganti Anton, seorang pencabik bass.

♫♫♫♫♫

“Ra, sekolah nggak?! Udah jam setengah tujuh, nih!!” suara cempreng Mas Bara membangunkanku. (pantas saja dia selalu ditolak ketika mengikuti berbagai audisi penyanyi,, suaranya cempreng begitu,, hihihi,,,)

“Hah?! Jam setengah enam? Masih lama tau!!!” jawabku kesal, bersiap untuk tidur lagi bila tidak dijawab dengan Mas Bara.

“Jam setengah enam mimpi!!! Jam setengah tujuh, onta!! Bangun, woy!! Gue aja udah mau berangkat!!!” sergah Mas Bara yang memang selalu on-time nyampe sekolah.

Tanpa ba-bi-bu lagi aku loncat dari tempat tidur dan melesat ke kamar mandi. “Biar telat penampilan harus oke, dong”, itulah motto-ku. Seperempat jam kemudian aku bersiap ke sekolah. Untung Mas Bara setia menungguku dengan Shogun-nya, jika tidak tamat sudah riwayatku hari ini. Manalagi pelajaran pertama Pak Bulldog, ups, Pak Budi, guru kimia, maksudnya. Karena killer, maka dipanggil Pak Bulldog sama anak-anak.

“Woy, onta, cepetan!! Udah ditugguin juga!!!” teriak Mas Bara dari teras depan.

“Iya, mas!! Ya ampun,, thanks berat, nih!! Ntar gue traktir deh!!!” sergahku riang.

“Udah deh, cepetan!! Nggak usah banyak omong!! Pegangan yang kenceng!! Soalnya kita mau ngebut!!!” potong Mas Bara tergesa. Sebenarnya Mas Bara itu baik banget loh, tapi kalau ngomong, wuihh,, galak dan ketusnya nggak nahan.

♫♫♫♫♫

Waah,, akhirnya aku nyampe di sekolah dengan selamat dan badan masih utuh. Fiuuh,, masalahnya tadi di jalan deg-degan banget naik motor sama Mas Bara. Tumben-tumbenan sih dia sudi nungguin aku, biasanya jam enam lewat lima belas dia udah say goodbye demi bokinnya tercinta, Intan. Tapi walaupun udah punya pacar, di sekolah masih banyak yang nge-fans loh. Dia ganteng bin cakep abis sih, siapa dulu adiknya? Loh, kok malah nyeritain Mas Bara?! Balik lagi ke masalah sekolah, ah…

“Assalamu’alaikum, Ara…”

“Oooh,, elo, Nya. Gue kira siapa. Uuuff,, capek nih, tadi dibonceng Mas Bara diajak ngebut lagi!!!”

“Jawab dulu, dong, salamku!! Itu kan do’a buat kamu!! Masa’ kamu nggak mau do’ain sahabatmu tercinta ini!!” Vanya menjawab dengan pura-pura merajuk.

“Gitu doang, ngambek,,, iya deh,, Wa.. Wa. Wa apaan, Nya?” tanyaku pada Vanya, ya, salam yang masih terasa begitu asing di lidahku.

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,,,”

“Panjang bener,, Wa’alaikumussalam,,,” jawabku yang kemudian dibalas gelengan kepala Vanya.

Pasti pada bingung soal Vanya?! Vanya itu sobatku sejak SD, SMP, sampai sekarang SMA kelas XI. Dia pintar dan baik hati kepada semua orang. Dia merupakan satu-satunya orang yang aku percaya di sekolah selain teman-teman Band Gelowku. Dia duduk sebangku denganku tahun ini dan tentu saja yang paling mengerti aku. Dulu dia orang yang paling modis, cantik, dan jago dandan, serta selalu mengutamakan penampilan fisik. Kebalikan dari aku yang orang bilang si Tomboi urakan, nggak rapi, dan lain-lain. Aku dan dia sama-sama dikenal sebagai anak yang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di luar sekolah. Modern dance, drum band, paskibra, basket, sampai karate kami tekuni. Kami pun sering jalan-jalan ke mall, mejeng, cuci mata, pokoknya mengerjakan hal-hal yang gila bersama deh.

Tapi, semenjak masuk SMA entah mengapa dia sangat berubah. Dia nggak mau lagi kuajak ke mall, mejeng, bahkan dia berhenti modern dance, aku pun sebenarnya juga begitu. Tapi tentu alasan kami sangat berbeda. Dia mengikuti berbagai acara rohis (apaan sih? Keagamaan gitu deh…), sementara aku sibuk dengan Band Gelow-ku tercinta. Dua orang yang jauh berbeda tapi tetap diikat oleh satu tali persahabatan. Kadang-kadang teman-teman kami pun heran dan berkata, “kalian tuh benar-benar kayak langit sama bumi, tau!!!”, apalagi setelah Vanya memakai jilbab kelas XI ini. Tapi aku cuma berpikir kalau mereka iri dengan persahabatan kami.

♫♫♫♫♫

Aku berjalan di koridor sekolah sambil menunduk. Aneh memang, jarang-jarang aku menundukkan kepala seperti hari ini. Aku memang sedang mumet sekarang, banyak pikiran. Vanya udah pamit ke mushola buat solat Zuhur, malah ngajak aku lagi. Tapi aku tolak dengan alasan mau ke kelas Fredi dulu. Biasa, ngomongin Band Gelow-ku yang benar-benar gelo itu.

GUBRAKK!!!

Aku tiba-tiba terjatuh tersenggol anak-anak kelas X yang berlarian di koridor. Heran, udah SMA masih aja lari-larian kayak anak kecil. Hampir aku memaki ketika aku menyadari yang jatuh bukan hanya aku. Ada seorang kelas XII, mungkin tertabrak olehku dan terduduk di depanku. Wuuiih,, lucuuuu,,, kalau keadaannya nggak kayak sekarang, mau banget, deh, aku kenalan sama cowo’ itu!! Mukanya itu, loh, seperti amat bersinar gitu deh… aku menyadari kemudian kertas-kertasnya tercecer di sekitarku, aku sadar dan mengambilkannya.

“Umm,, syukron, ya, ukhti.” jawabnya pendek dengan senyum yang maniiis banget. Tapi aku bingung, syukron apaan ya?! Kok dia manggil aku ukhti?!

“Umm,, sorry mayorry A’, nama gue,, eh,, saya Ara, bukan ukhti!” jawabku dengan penasaran sambil menunggu dia menyebutkan namanya. Tapi hal itu nggak pernah terjadi dia malah tersenyum (lagi) dan mengucapkan salam serta pergi (uufh, cool banget deh,,).

“Assalamu’alaikum, ukhti Ara.”

“Wa.. Wa’alaikumussalam,,,” (fiuhh,, untung aku udah belajar sama Vanya tadi pagi) jawabku tergagap.

♫♫♫♫♫

“Vanya,, itu orang apa dewa, sih?! Lucuuuu,, cuteeee,,, ya ampun!!!!” pulang sekolah aku langsung curhat di rumah Vanya yang lumayan gedong itu. Mumpung hari ini nggak ada latihan band.

“Huuush!! Sembarangan!! Mana ada tuh yang namanya dewa!!! Ada juga nama band, Dewa 19!!!” potong Vanya di tengah teriakan-teriakan gilaku. Maklum, rumah Vanya kalau siang selalu sepi, hanya ada Vanya dan mbok-nya, ayah-ibunya pergi kerja dan Vanya anak tunggal.

“Yeee,, gue serius nih!! Elo malah bercanda. Elo kenal nggak?! Kayaknya dia anak ro.. ro.. ro apaan tuh?! Rokis?! Bokis?!”

“Rohis!!!”

“Iya,, bokis,, eh,, rohis!! Soalnya dia kayaknya alim banget,, cool banget lagi!!! Tapi yang gue bingung dia tadi ngomong syukron sama manggil gue ukhti,, apaan sih artinya?!”

“Dasar!!! Syukron itu terima kasih!! Ukhti itu panggilan buat perempuan, bahasa Arab!!! Masa’ kamu nggak tau, sih, Ara-ku?! Katanya mau dapetin cowo’ alim?!”

“Oooo,, Vanya kamu kok pinter banget sih!!!! Mau ngajarin gue nggak?!!!” sahutku gemas sambil mencubit pipi Vanya yang lumayan chubby. Vanya cuma meringis-ringis sebal sambil mesem-mesem nista.

♫♫♫♫♫

Pagi yang indah, sama dengan pagi-pagi sebelumnya memang, tapi memiliki makna berbeda untuk Ara. Bagaimana tidak, pagi tadi dia bertemu lagi dengan si A’a Lucu itu di pintu gerbang. Ara tentu menebar senyumnya yang paling manis dan kalem, berbeda dengan imejnya selama ini, cewe’ tomboi nan periang. Berbeda pula saat dia sedang mencabik bass-nya kian semangat. Tentu saja hal itu berdampak bagi Ara yang memang selalu “senang” itu. Apalagi A’a Lucu itu membalas senyum Ara dengan senyuman paling manis juga. Vanya sampai pusing dibuatnya karena Ara tidak berhenti-hentinya cerita soal si A’a Lucu itu!! Cinta memang membuat pusing, deh!!!

“RAHMAH AZ-ZAHRA!!!” suara bariton dalam nada d minor yang menghentak milik Pak Bulldog, Pak Budi maksudnya, mengagetkan.

“I,, iya, Pak,,, ada a,, apa??” sahut Ara tergagap takut campur malu, padahal sebelumnya boro-boro ditegur Pak Bulldog, Ara selalu dipuji karena otaknya sangat cemerlang pada mata pelajaran kimia.

“Mengapa kamu ngobrol terus, dari tadi Bapak perhatikan??!!!”

“Sa,, sa,, saya ti,, tidak ngobrol apa-apa kok, Pak.” tergagap menghadapi Pak Bulldog, padahal biasanya Ara tidak pernah sebegitu nervous-nya.

“Jelas-jelas saya lihat kamu ngobrol tadi!!” tukas Pak Bulldog, syereeem.

“……………………….” busset,, Ara sampai terdiam karena amarah Pak Bulldog.

“Oke, saya beri kamu satu hukuman, Ara!! Baca puisi karangan kamu di depan kelas sekarang!!!” tukas Pak Bulldog (yang ternyata memang pecinta puisi) dengan penuh kemenangan.

‘Waduh, sekate-kate, nih, guru!! Mana gue nggak bisa bikin puisi lagi!!!’ batinku menjerit lemah ketika mendengar pernyataan Pak Bulldog. Tapi dengan PD (Percaya Diri) tinggi aku tetap maju ke depan kelas sambil membayangkan wajah si A’a lucu.

♫♫♫♫♫

“Ra, sentakan bass elo udah mulai bagus juga.” tumben-tumbenan Jason memujiku, pasti lagi ada maunya.

“Oi, thanks banget nih!! Ada angin apa elo muji gue?! Biasanya elo yang paling pengin ngeluarin gue dari band!!” sindir Ara ke Jason dengan nada lumayan, lumayan ganas maksudnya.

“Weeks, sabar dong!! Gak kenapa-kenapa kok!! Gue salut aja sama perjuangan elo!! Elo bisa bertahan dari semua yang nentang elo, termasuk gue!!” jawab Jason santai.

“Oh, cuma gitu aja!!” jawabku agak ketus, tapi bisa membuat dia terperangah sedikit, terlihat dari wajahnya. Hatiku kisruh, lagi bete ceritanya, maka aku keluar dari studio, Fredi sama Aldi juga lagi makan di luar.

“Woy, Ra, elo marah ya?! Mau ke mana?! Sorry dong, gue nggak maksud nyinggung elo!! Woy, Ra!!” Jason teriak-teriak di dalam sembari menghentikan check and recheck drum kesayangannya itu.

“Gue mau balik! Besok ada ulangan Fisika!! Gue nggak mau ngorbanin pelajaran gue!! Gue mau belajar!!!” jawabku acuh-tak-acuh yang disambut anggukan Fredi dan Aldi ketika aku berpamitan.

♫♫♫♫♫

“Assalamu’alaikum, ukhti Vanya. Bagaimana proposal untuk acara Keputrian Rohis dua minggu lagi?” suara yang sangat teduh itu mengagetkanku juga Vanya. Jarang-jarang loh, ada cowok yang menegur Vanya.

“Wa’alaikumussalam. Oh, A’ Indra. Proposalnya sedang berusaha diselesaikankan saat ini, A’. Kebetulan Teh Nadia sedang sakit, jadi proposal terpaksa ditunda sementara.” jawab Vanya lancar dan tenang. Tapi aku malah merasa wajahku memerah bahkan berubah ungu.

“Assalamu’alaikum, A’, masih inget Ara nggak?!” tanyaku tiba-tiba yang aku sendiri kaget menyadarinya.

“Wa’alaikumussalam, oh iya, masih inget. Ukhti Ara yang nolongin saya ngambilin kertas, kan?! Ya udah, deh, ukhti Vanya, kalau ada apa-apa hubungin saya aja, ya?! Wassalamu’alaikum.”

“Iya, A’, wa’alaikumussalam.” Vanya hanya menjawab singkat sementara aku hanya mengangguk dan tersenyum singkat.

“Vanya!!! Kok elo nggak bilang ke gue kalau elo kenal sama A’a Lucu itu?!! Siapa tadi namanya?! A’ Indra?!!” sambarku ketika A’ Indra keluar kelas kami.

“Yeee, mana aku tahu kalau A’a Lucu yang kamu ceritain itu A’a Indra. Aku kan nggak merhatiin.”

“Pokoknya gue harus kenalan sama dia!!!”

“Loh, tadi bukannya udah kenal?!”

“Huh, maksudnya jadi lebih kenal lagi, tahu!!! Siapa tau bisa jadian gitu… Upz,, ketahuan deh… Eh, kok elo bisa disamperin sama dia sih?!” aku melancarkan sedikit protes.

“Huh, mana mau dia jadian sama akhwat!! Ngomong aja jarang!! Lagian mana ada tuh yang namanya pacaran, jadian, bokinan, atau apalah itu dalam Islam. Oo,, penasaran nih?! Rahasia dong!!!” jawab Vanya dengan tawa dan seringai yang menyebalkan, aku langsung pura-pura merajuk. Oh, ternyata A’ Indra adalah ketua panitia acara keagamaan di sekolah dan Vanya menjadi sekretaris acara itu. Secara sekretaris satunya sedang berhalangan hadir saat itu, Vanyalah yang ditanya.

♫♫♫♫♫

“Van, pulang sekolah gue ke rumah elo, ya?!”

“Mau ngapain, Ra?! Di rumah lagi nggak ada orang. Nggak ada apa-apa lagi. Terserah sih.”

“Bete nih. Pengin curhat.”

“Loh, bukannya elo ada latihan band?!”

“Justru karena itu, Van. Boleh ya? Entar gue ceritain deh…”

“ Ya udah, terserah dikaulah.”

♫♫♫♫♫

Di rumah Vanya, aku yang lagi bete langsung curhat. Tentang bokap-nyokaplah. Apalagi kalau bukan itu?! Kabar terakhir yang aku dengar, bokap nikah lagi sama ABG, cuma dua tahun lebih tua dari aku. Nyokap juga belum balik dari Singapore, nggak tau ngapain di Singapore sampai dua minggu. Ada berondongnya nyokap kali. Kayaknya mereka mau cerai, soalnya nyokap telpon sambil marah-marah dari Singapore. Huh, cuma nelpon aja. Pulang nggak. Terus soal (sebenarnya rahasia) diam-diam aku tau kalau Fredi kemarin nge-fly di studio. Jujur aku takut banget. Gimana kalau aku jadi ikut-ikutan make juga?!

Aku cerita panjang lebar sama Vanya. Vanya nyuruh aku sabar. Berdo’a sama Tuhan. Terus katanya, soal Fredi, aku lebih baik keluar dari Band gelow itu. Tapi jujur aja aku bingung.

♫♫♫♫♫

Aku menghentakkan kaki keluar dari studio musik. Huh, latihan dengan mereka kadang-kadang sangat menyebalkan. Bahkan aku tidak menikmatinya seindah dulu. Entah mengapa ada yang mengganjal di hatiku. Apalagi ketika aku mendengar suara adzan dari luar studio, rasanya malah sangat damai di luar. Aldi mulai cekcok dengan Jason di dalam studio. Kurasa mereka mempeributkan aku, Fredi hanya mencoba mendamaikan mereka, namun tidak berhasil. Aku telah membuat suatu keputusan yang telah kupikirkan matang.

♫♫♫♫♫

“Pokoknya gue mau keluar dari band ini!!!” teriakanku cukup mengejutkan. Tidak tinggi memang, tapi sangat tegas dan sungguh-sungguh.

“Loh, kenapa, Ra?!” Fredi angkat bicara akhirnya, setelah beberapa menit studio itu dilanda keheningan.

“Apa karena Jason?!” nada tinggi Aldi menyaingiku sambil melirik Jason.

“Bukan.”

“Terus kenapa, Ra?!”

“Gue cuma ngerasa jenuh sama semuanya.”

“Terus elo mau ninggalin Band Gelow gitu aja??! Nggak, Ra!! Elo nggak boleh kayak gini!!! Elo emang nggak kenal adat, Ra!!! PENGECUT!!!” giliran Jason angkat bicara.

“Elo semua mau bilang apapun, gue tetap keluar!!! Gue udah jenuh sama semuanya!!! Gue mau kembali ke jalan yang benar!!!” aku menentukan keputusanku dan keluar dari studio diiringi bantingan gitar Aldi yang menderu di telinga. Sedih memang, tapi aku tahu aku bisa mengatasinya. Aku harus berubah!!!

♫♫♫♫♫

Sesaat kemudian aku sudah berada di angkot menuju rumah. Anganku kembali melayang ke beberapa hari sebelum aku buat keputusan itu…

Di rumah Vanya aku dengar pembantunya, Mbok Sumi, dan sopirnya, Pak Makmur, mengobrol…

“Neng Ara makin sering ke sini, ya, Mur.”

“Iya, Sum. Mudah-mudahan aja masalahnya Neng Ara cepat selesai.”

“Hus! Sembarangan aja. Tau darimana dia banyak masalah? Fitnah aja kamu!”

“Dari mukanya. Kusut. Lagian kalau nggak salah dengar kemarin di mobil, dia punya masalah sama orangtua gitu.”

“Udah, ah!! Gosip aja kamu! Kita orang kecil tau apa sih!! Yah, mudah-mudahan masalahnya selesailah. Kan sayang Neng Ara udah cantik, pinter, kaya lagi tapi banyak masalah.”

“Kaya juga masalah lagi, Sum. Banyak godaan. Untung Non Vanya bisa menghindari masalah itu dan dekat sama Gusti Allah.”

“Iya. Ya udah, kita do’ain aja biar Neng Ara bisa keluar dari masalah itu terus jadi tambah deket sama Gusti Allah, ya.”

JLEEEEPPP… pelan tapi masuk… menohok…. bukan lebih tepatnya membuat rasa haru dan…. mungkin sayang. Ara menangis diam-diam…..

Terus masih ada sesuatu di sekolah yang membuatku ingin berubah…..

“Van, elo nggak kenapa-kenapa temenan sama Ara?! Dia kan anak underground gitu!!!” tanya beberapa akhwat ke Vanya di dekat musholla. Mereka nggak tau kalau aku ada di sekitar situ, nunggu Vanya.

“Nggak apa-apalah… Ara itu udah kayak saudara aku. Lagian dia nggak ngapa-ngapain kok. Kenapa aku harus kenapa-kenapa?!”

“Nggak.. tapi pergaulannya?!”

“Biasa aja. Dia kreatif sama pinter lagi. Dia juga tekun. Nggak ada yang salah sama dia. Dia masih bisa ngontrol diri dan hidupnya. Lagian aku yakin dia bisa berubah jadi akhwat sejati. Emang ada yang tau Allah bakal ngasih hidayah ke siapa aja?! Nggak, kan!?! Apa salahnya kalau aku temenan sama Ara. Lagian yang temenan aku, kenapa kalian yang protes?! Lebih tau mana sih aku sama kalian?!!”

“Iya deh… jangan sewot gitu dong, Van. Jarang-jarang loh….”

“Huh, abisnya kalian ngehina Ara! Sama aja kalian ngehina aku!!”

Aku mendengar percakapan itu tanpa mereka semua sadari. Diam-diam aku merasa sangat terharu dan sayang sama Vanya. Dia benar-benar membela. Tapi di lain sisi aku sedih soalnya aku nggak bisa jadi sahabat yang baik nuat Vanya…

Dan nggak lupa di studio..

Kosong, belum ada apa-apa… siapa-siapa maksudnya… tapi aku mendengar suara aneh, seperti orang kesakitan dari dalam. Ada siapa?! Fredi!! Bayangkan, beberapa hari lalu aku melihat dia nge-fly, sekarang sakaw!!!

“Ra, gue butuh barang nih. Tolongin gue dong!!! Sakit banget!!! Bagi duit!!!”

“Gue.. gue nggak punya, Fred. Abis buat beli tugas seni tadi…”

“Alah, bo’ong, elo!!! Orang kaya kayak elo!!!” mendorongku sampai jatuh ke pojok studio. Mengobrak-abrik tasku. Dan mengambil seluruh uangku. Habis. Tak tersisa. Bahkan untuk ongkos pulang pun. Jujur sejak saat itu, aku mulai menjauh dari Fredi. Takut.

Aku sepertinya mulai kehilangan makna hidupku yang seperti ini. Jujur aku iri dengan Vanya. Sederhana tapi bahagia. Punya teman-teman yang baik. Orangtua yang baik. Dan selalu bahagia. Sementara aku?! Tapi aku sangat bersyukur punya Vanya yang masih mau menjadikanku saudaranya. Aku… bingung……

♫♫♫♫♫

“Mas Bara, gue keluar dari band.”

“Bo’ong banget elo!!!”

“Sueer!! Gue pengin hidup gue lebih baik sebagai seorang ….. akhwat!!”

“Alah!! Udahlah, nggak usah sok idealis!!! Ngapain, sih?! Mumpung masih muda, nikmati aja lagi!!!

“Ugh, Mas Bara nggak ngerti nih!!!”

“Ya udahlah, keputusan semua di tangan elo. Eh, elo mau ikut kemping ke Gunung Salak nggak besok?! Gue sama temen-temen mau kongkow-kongkow bareng nih!!!” Mas Bara mengalihkan pertanyaan agar suasana tidak terlalu tegang.

“Iya deh. Lagian Sabtu besok gue pulang cepat kok!” ujarku yang mengakhiri pembicaraanku dengan Mas Bara malam itu.

Orangtuaku belum pulang, padahal jam ayamku sudah menunjukkan waktu pukul satu dini hari. Entah kemana mereka. Mas Bara sudah terlelap dari tadi, tinggal aku, kodok, dan jangkrik yang terjaga malam ini. Aku memaksa memejamkan mataku agar bisa ke Gunung Salak besok.

♫♫♫♫♫

Aku manyun di bangku belakang Terrano Mas Bara. Huh, seharusnya aku ajak teman untuk senang-senang kalau tahu begini. Mas Bara tidak bilang kalau dia akan pergi dengan Intan, sih. Tapi salahku juga, mengapa aku tidak berpikir sampai ke situ?! Mereka sedang bermesraan di kursi depan, melupakanku juga sepertinya. Sementara teman-teman Mas Bara yang lain menaiki mobil masing-masing. Ugh, bosan!! Untung lewat jalan tol, jadi perjalanannya lebih singkat.

“MAS BARA, AWAS!!!!!!!!!!!!!!!!”

CKIIIIIIT!!! GUBRAK!!! AAAAAAAAAARRRRRRRRRGGGGGG!!!!

♫♫♫♫♫

“Gue dimana?! Kenapa gelap banget?!! Mas Bara!! Mas Bara!!!”

“Ara, kamu sudah siuman?! Tenang, Ra!! Tenang!! Ada mama di sini!!!” suara mama mencoba menenangkanku.

“Ara, syukurlah!!!” suara papa berganti sambil memelukku.

“Mas Bara!! Mas Bara mana?! Mas Bara mana?!! Ara kenapa?!! Kenapa gelap banget?!!! Kenapa badan Ara nggak bisa bergerak?!!!!”

“Mas Bara…. kalian……. kecelakaan sewaktu pergi ke Gunung Salak. Hanya kamu yang selamat, Ra.” jawab papa lirih, seakan agar aku tidak mendengarnya.

“MAS BARA!!!!”

♫♫♫♫♫

“Assalamu’alaikum, Araku, sudah baikan? Aku baru dikasih tahu tadi pagi sama ayah-bunda kamu.”

“Vanya!! Wa’alaikumussalam. Kamu sendiri ke sini?! Gue nggak bisa ngeliat dulu nih!!! Thanks berat yah, udah jenguk gue!!!”

“Nggak kok, sama-sama yang lain juga.”

“Sama siapa?! Fredi, Aldi, sama Jason?!”

“Nggak salah juga, sih. Sama A’ Indra dan Aldi.”

“Assalamu’alaikum, Ara. Gimana keadaannya.”

“Baik-baik aja A’ Indra. Aldi, yang lainnya kemana? Pada sibuk ya?!”

“Nggak… eh, iya….eh…..”

“Kenapa sih, Di?! Ngomong aja kali!!!”

“Gue.. gue nggak tega ngasih tau elo, Ra. Elo harus….”

“Ngasih tau apaan sih, Di?!”

“Fredi sama Jason….. mereka…. mereka……”

“Apaan?!”

“Kayaknya elo musti tau deh cepat atau lambat. Mereka….. OD.”

“…………………………………………..”

“Bokis elo, Di!!!!!! Nggak mungkin!!!!!! Dasar elo tukang tipu!!!!!!!!!!!!!!!” aku tiba-tiba histeris dan berteriak-teriak ke seluruh penjuru. Terdengar suara mereka menenangkanku, namun aku tetap histeris. Anton. Mas Bara. Fredi. Jason. Lalu siapa lagi?! Vanya memelukku setelah dia menyuruh yang lainnya keluar dari ruanganku. Mungkin Aldi pulang, kurasa dia menyesal telah memberitakan kabar itu kepadaku.

“Ara, tabah, ya. Aku tahu kehilangan ini begitu berat untukmu. Bahkan juga untukku yang nggak mengalami hal ini.”

“Elo nggak ngerti, Nya!!!!!”

“Aku tahu. Ini memang sangat berat. Tapi Tuhan nggak akan mencoba ummatnya jika dia tidak mampu menjalaninya, kan?!”

“Tapi kenapa mesti gue, Nya?!!!!”

“Pertanyaan kamu tadi pertanda kalau kamu belum ikhlas. Kamu sanggup buat ngelaksanainnya. Jadi Tuhan memilih kamu sebagai orang yang tepat. Lagipula jalan hidup kamu nggak bisa kamu tentuin sendiri, kan?!”

“Tapi gue nggak punya siapa-siapa lagi sekarang!!!!!!! Gue cuma orang buta dan lumpuh sekarang!!!!!!!!!! Hidup gue nggak berarti lagi!!!!!!!!!!!!!!!”

“Kamu masih punya aku, Ra!! A’ Indra. Aldi. Teman-teman yang lain. Orangtua kamu!!!! Dan bahkan kamu masih punya……… TUHAN!!!!!!”

‘Ugh, Tuhan. Maukah Engkau menerimaku sekarang? Aku telah berserah diri. Aku, maknaku, artiku, hidupku, matiku, untuk-Mu. Mungkin sudah sangat terlambat saat ini, saat aku tidak berdaya. Buta! Lumpuh! Tapi biarlah, mungkin itu lebih baik bagiku. Saat ini aku hanya bisa berserah kepada-Mu, tak ada yang lainnya.’

♫♫♫♫♫

gimana?? ajib gak anehnya.. hohoo.. biar aneh, tetap rock on!!^0^

~ by antares1911 on August 24, 2008.

2 Responses to “Pemberhentian Akhir Ara”

  1. wah2 bagus..

    ko kayaknya pernah baca ya????

    Dimana ya????

    Ngga ngopast kan?? hehe peace2…

    trus ada te Nadia pula….

    Dan A Indra tuh a Dodo ya???

    Semangat berkarya ajah, smoga semakin meningkat kemampuannya….

  2. kae cerita teenlit chicklit gitu jul…
    heboh banget…
    hehe,
    lu komen ke blog tetangga napa jul? bete.

Leave a Reply